wakaf, infak, definisi

Wakaf Menurut Para Fuqoha

       Para fuqoha  memberikan definisi wakaf secara berlainan karena dipengaruhi oleh mazhab yang mereka pegang. Mereka mendefinisikan wakaf dengan definisi yang beragam sesuai dengan perbedaan mazhab yang mereka anut. Definisi wakaf yang dibuat oleh para ahli fikih (hukum Islam) pada umumnya memasukkan syarat-syarat wakaf sesuai dengan madzhab yang dianutnya. Perbedaan mengenai definisi tersebut, menurut Al-Kabisi, terletak pada kelaziman dan ketidaklazimannya, syarat pendekatan di dalam masalah wakaf, posisi pemilik harta wakaf setelah diwakafkan, tata cara pelaksanaan wakaf, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan wakaf seperti serah terima secara sempurna, dan sebagainya.

       Keragaman definisi ini, menurut Juhaya S. Pradja, sebagai akibat dari perbedaan penafsiran terhadap lembaga wakaf sebagaimana yang telah dilakukan oleh para mujtahid dan yang pernah dipraktekan oleh masyarakat Islam. Pada umumnya, mereka memasukakan syarat-syarat wakaf yang diambil dari madzhab yang dianutnya, sehingga terjadi perbedaan hukum di kalangan mereka.

       Al-Anshari, salah seorang fuqoha dari Madzhab Syafi’i, mendefinisikan wakaf sebagai berikut:

حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ بِقَطْعِ التَّصَرُّفِ فِي رَقَبَتِهِ عَلَى مَصْرِفٍ مُبَاحٍ

       “Menahan harta yang bisa diambil manfaatnya tanpa lenyap bendanya dengan memutuskan tasarruf/tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (tidak dihibahkan, dijual, atau diwariskan) serta digunakan untuk sesuatu yang bersifat mubah”.

wakaf, infak,dalil
dalil wakaf menurut sunnah

       Pengertian ini diambil dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwa apabila manusia meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara, yaitu shadaqah jariah, ilmu yang bisa diambil manfaatnya, dan anak saleh yang mendo’akannya. Selanjutnya dia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shadaqah jariah pada hadits tersebut adalah wakaf.

       Definisi ini membedakannya dari pengertian wakaf yang dibuat oleh para fuqoha dari madzhab lain. Oleh karena itu perlu penjelasan definisi ini sebagai berikut :

       Pertama, kata habs (menahan) sama dengan kata al-man’u (mencegah), artinya menahan semua jenis harta secara umum meliputi rahn (gadai) dan hajr (sita jaminan).

       Kedua, kata mâl (harta) merupakan penjelas (mudhaf ilaih) dari kata habs. Sesuatu yang boleh diwakafkan hanyalah sesuatu yang termasuk harta, sesuatu yang tidak termasuk harta, seperti arak, babi, dan manusia (anak Adam) yang merdeka maka tidak boleh diwakafkan.

       Ketiga, kalimat yumkin al-intifâ’u bihi ma’a baqâi ‘ainihi (yang bisa diambil manfaatnya dengan tetap/utuh bentuk aslinya). Kalimat tersebut mengecualikan segala jenis harta yang tidak bisa diambil manfaatnya secara berulang-ulang, seperti wangi-wangian dan makanan. Kedua benda tersebut bisa diambil manfaatnya tetapi dengan sekali pakai yaitu dengan cara mengkonsumsinya.

       Keempat, biqoith’i al-tasharrufi fî raqabatihi (dengan memutuskan kepemilikan dari pemiliknya). Kalimat ini mengecualikan semua harta benda yang ditahan tetapi tidak terputus kepemilikannya, seperti gadai dan sita jaminan. Berbeda dengan wakaf dimana wakif terputus kepemilikannya terhadap harta wakaf sehingga dia tidak bisa menjual, menghibahkan, atau mewariskannya karena menurut Madzhab Syafi’i, harta benda wakaf berpindah kepemilikannya kepada Allah swt.

      Kelima, kalimat ‘alâ mashrafin mubâhin (untuk disalurkan kepada jalan yang mubah). Kalimat ini membatalkan wakaf yang disalurkan kepada jalan yang haram, seperti kepada orang yang memusuni Islam, orang yang suka berbuat zina, atau untuk dijadikan sarana maksiat.
Imam Nawawi, sebagaimana dikutip oleh al-Kabisi, menambahkan dalam definisinya kalimat taqorruban ila Allahi ta’âla (dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah ta’ala). Kalimat tersebut mendapat kritikan dari al-Munawi. Manurutnya, persyatan mendekatkan diri kepada Allah swt. tidak dibenarkan adanya di dalam wakaf karena boleh-boleh saja seseorang mewakafkan harta benda dengan tujuan lain, bahkan dengan tujuan yang bersifat duniawi sekalipun, seperti jabatan, pangkat, ria, ingin dipuji, atau karena bermegah-megahan. Begitu pula seorang ayah yang mewakafkan tanah kepada anaknya adalah sah walaupun dengan tujuan supaya harta tersebut tidak diperjualbelikan setelah dia meninggal dunia dan tidak terbersit sedikit pun di dalam hatinya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah swt.

definisi, wakaf, profesional
pengelolaan wakaf di tanah perlu profesionalisme

       Syamsudin al-Syarkhasi, salah seorang fuqoha dari Madzhab Hanafi, memberikan definisi wakaf yang sejalan dengan fuqoha lainnya dalam madzhab tersebut. Menurutnya, wakaf secara bahasa adalah al-habs (menahan) dan al-man’u (melarang, mencegah). Kata tersebut diambil dari istilah dalam al-Qur’an

وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ

       Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya. (Q. S. al-Shaffat; 24).

       Adapun dalam istilah syara’ adalah

عِبَارَةٌ عَنْ حَبْسِ الْمَمْلُوكِ عَنْ التَّمْلِيكِ مِنْ الْغَيْرِ

       “Ungkapan tentang menahan harta milik dari jangkauan kepemilikan kepada orang lain”.
Al-Syarkhasi menyebut harta yang bisa diwakafkan tidak dengan istilah mâl (harta benda) melainkan dengan istilah al-mamlûk (yang dimiliki/harta milik), maksudnya bahwa harta yang bisa diwakafkan hanyalah harta yang dimiliki wakif secara sah dan ada dalam penguasaannya. Harta yang masih dalam sengketa atau sedang digadaikan tidak boleh diwakafkan. Kalimat ‘ani al-tamlîk mina al-ghoir (dari jangkauan kepemilikan orang lain), menandaskan bahwa harta yang sudah diwakafkan tidak boleh dimanfaatkan oleh wakif, seperti dijual, dihibahkan, atau dijadikan jaminan. Kata mina al-ghoir (dari orang lain) setelah kata al-tamlik menjelaskan bahwa harta yang sudah diwakafkan masih tetap dalam kepemilikan wakif karena yang menjadi landasan dari definisi tersebut adalah bahwa harta wakaf tidak boleh dialihkan kepemilikannya kepada orang lain.

       Dari dua definisi di atas, jelas bahwa definisi wakaf dipengaruhi oleh madzhab yang dianut oleh pembuatnya. Yang pertama, dari Madzhab Syafi’i, menekankan “keabadian harta wakaf”, sedangkan yang kedua, dari Madzhab Hanafi, menekankan “tetapnya kepemilikan harta wakaf”.

       Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, setelah mengadakan rapat komisi yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Maret 2002, antara lain tentang perlunya dilakukan peninjauan dan penyempurnaan (pengembangan) definisi wakaf yang telah diketahui, akhirnya pada hari Sabtu tanggal 11 Mei 2002 membuat rumusan definisi wakaf sebagai berikut:

حَبْسُ مَالٍ يُمْكِنُ الِانْتِفَاعُ بِهِ مَعَ بَقَاءِ عَيْنِهِ او اصله بِقَطْعِ التَّصَرُّفِ فِي رَقَبَتِهِ عَلَى مَصْرِفٍ مُبَاحٍ موجود

      “Menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya atau pokoknya, dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (menjual, memberikan, atau mewariskannya), untuk disalurkan (hasilnya) pada sesuatu yang mubah (tidak haram) yang ada.”
Al-Kabisi memilih definisi wakaf sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibu Qudamah, bahwa wakaf adalah “menahan asal dan mengalirkan hasilnya”.

       Alasan pemilihan definisi ini adalah sebagai berikut:
       Pertama, definisi ini dikutip dari hadits Nabi kepada Umar bin Khattab “menahan asal dan mengalirkan hasilnya”, sedangkan Nabi adalah orang yang paling benar ucapannya dan yang paling sempurna penjelasannya, serta yang paling mengerti akan sabdanya.
       Kedua, definisi ini tidak pernah ada yang menentangnya dari dulu sampai sekarang.
       Ketiga, definisi ini hanya membatasi pada hakekat wakaf saja, tidak memasukkan perincian yang menjadi perdebatan para ulama, seperti persyaratan niat, kelaziman atau tidaknya, tetapnya kepemilikan wakif atau bukan, dan sebagainya.

       Mundzir Qahaf, setelah menganalisa beberapa definisi wakaf menurut berbagai madzhab dan perundang-undangan di Negara Barat dan Muslim, mengusulkan definisi wakaf yang sesuai dengan hukum dan muatan ekonominya serta peranan sosialnya, yaitu “Wakaf adalah menahan harta baik secara abadi maupun sementara, untuk dimanfaatkan langsung ataupun tidak langsung, dan diambil manfaat hasilnya secara berulang-ulang di jalan kebaikan, umum maupun khusus”.

       Di dalam definisi ini terkandung beberapa pengertian wakaf sebagai berikut:

  • Pertama, menahan harta untuk dikonsumsi atau dipergunakan secara pribadi.

  • Kedua, yang boleh diwakafkan harus berupa harta. Harta adakalanya tetap atau tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, dan adakalanya bergerak seperti kendaraan, buku, kitab, senjata, uang, dan saham.

  • Ketiga, mengandung pengertian melestarikan harta dan menjaga keutuhannya, sehingga harta tersebut bisa diambil manfaatnya, baik secara langsung maupun diambil manfaatnya secara berulang-ulang.

  • Keempat, berulang-ulangnya manfaat, baik yang berlangsung lama, sebentar, atau selamanya. Keberlangsungan wakaf tergantung kepada jenis harta yang diwakafkan dan batasan waktu yang ditetapkan oleh wakif.

  • Kelima, definisi wakaf mencakup wakaf langsung dan wakaf tidak langsung. Wakaf langsung berupa harta yang manfaatnya bisa digunakan langsung, seperti masjid yang manfaatnya digunakan langsung sebagai tempat ibadat. Wakaf tidak langsung berupa wakaf produktif yang memberi manfaat dari hasil produksinya, seperti menyalurkan laba/profit dari deposito sesuai dengan tujuan wakaf atau menyalurkan hasil pertanian dari tanah yang diwakafkan.

  • Keenam, digunakan untuk jalan kebaikan, seperti keagamaan, sosial, pendidikan, dan sebagainya.

  • Ketujuh, wakaf tidak akan terjadi kecuali dengan keinginan wakif.

  • Kedelapan, pentingnya penjagaan, pelestarian, dan pengelolaan wakaf.

1 komentar pada “Wakaf Menurut Para Fuqoha”

  1. Pingback:Keistimewaan Wakaf | RA AL-HIDAYAH BANJARAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *